Asa Manisku Terhenti Di Lobang Jirigen.

oleh -1 views

Catatan Kecil.Pimred Media Siber Suaraborneo.co.id

Muara Teweh. SPBU di Barito Utara terdapat tujuh unit usaha. Keberadaan tujuh SPBU diharapkan dapat mencukupi ketersediaan BBM untuk masyarakat, belum sepenuhnya terpenuhi. Kenapa dan Ada apa? Pertanyaan tersebut mungkin menjadi pertanyaan publik namun tidak pernah diungkapkan. Sebab sering sekali BBM di 6 SPBU kosong?

Keberadaan SPBU Batara Membangun milik pemerintah daerah yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Barito Utara tentu membangun gairah dan semangat masyarakat untuk pemenuhan ketersediaan BBM. Akan tetapi ternyata kehadiran SPBU Batara Membangun belum sepenuhnya mampu mencukupi pemenuhan ketersediaan BBM untuk masyarakat. Buktinya beberapa kali terlihat SPBU Batara Membangun tutup karena kehabisan stok BBM.

Sementara sangat jelas terlihat bahwa dalam praktek pelayanan usaha SPBU Batara Membangun kepada konsumen, SPBU Batara Membangun tidak pernah melayani pelanggan yang membawa jirigen atau jenis tempat lainya selain ke Tanki kendaraan. Warga mendapatkan pelayanan yang baik. Lalu kenapa sering kehabisan stok? Bahkan beberapa hari ini (03/02/21) stok habis dan (04/02/21) volumen penjualan BBM kepada pelanggan roda empat dibatasi, maksimal pembelian 200 ribu. Pelanggan tentu sangat bersyukur sebab BBM di beberapa SPBU yang ada di Muara Teweh justru tutup karena kehabisan BBM?

Masyarakat sebagai konsumen SPBU Batara Membangun sangat berharap dapat menambah volumen pembelian BBM sehingga pemenuhan BBM untuk masyarakat dapat terpenuhi.

Ironisnya, kala BBM langka, terlihat di SPBU lainnya, pihak SPBU sering terlihat melayani pelanggan yang membawa jirigen. Tampak jirigen ukuran 5 liter sampai ukuran volume 35 liter dibawa pelanggan dan dilayani SPBU. Bahkan mobil bak terbuka yang mana diatas baknya adalah drum, dan minubus penuh dengan jirigen juga dilayani SPBU.

Ironisnya, disalah satu SPBU yang berlokasi di Jalan Pramuka, Kamis, 03/02/21, sekitar pukul 09.00 wib, terlihat antrian pelanggan sambil menunggu pengisian BBM ke puluhan jirigen yang terang terangan disusun di samping pompa pengisian BBM..

Pelanggan hanya bisa menonton dan mengantri dibelakang pelangga yang membawa jirigen, sementara kelangkaan BBM khususnya Premium dan pertalite terjadi di muara Teweh.

Kemudian pertanyaan mendasar, Bolehkan membeli BBM di SPBU dengan Memakai Jirigen? Tentu Boleh. Tapi ada syaratnya.

Dilansir dari Detikoto, 18/06/20. Syaratnya harus ada surat pendukung.

Membeli BBM dari SPBU dengan memakai jirigen boleh asal tidak diperjual belikan lagi. Demikian pernyataan vice communication PT. Pertamina (Persero) Fajriyah Usman kepada Detikoto (18/06/20).

“Karena menurut UU migas no
22 tahun 2001, PP 36 tahun 2004, bahwa untuk melakukan usaha hilir migas harus mendapatkan persetujuan dari pemerintah dalam hal ini kementerian ESDM (Dirjen Migas) dan mendapatkan ijin usaha niaga tersebut ke BPH migas” kata Fajriyah.

“Terkait pembelian solar dengan jirigen, disarankan untuk tidak digunakan sebab jirigen yang tidak sesuai dengan SNI sangat rentan dengan listrik statis yang mengakibatkan insiden di SPBU” terang Fajriah.

Tambah Fajriah dalam Kriteria UMKM mengacu kepada UU 20 tahun 2008, maka untuk UMKM rekomendasi oleh dinas UMKM dan BBM yang dibeli dari SPBU untuk kegiatan usahanya bukan, bukan untuk diperjual belikan kembali.

Perilaku pihak SPBU yang melayani pembeli dengan membawa jirigen bahkan drum dalam mobil minibus dan bak terbuka menurut informasi beberapa warga sudah berungkali dilaporkan kepada pihak yang berwenang, akan tetapi kejadian kejadian yang sama masih saja berlangsung.

Semoga menjadi perhatian pemerintah dan aparat penegak hukum, sebab kecukupan kebutuhan ketersediaan BBM kepada masyarakat seyogyanya menjadi prioritas.

Diketahui bahwa harga peremium di pengecer muara Teweh (04/02/21) seharga Rp.10.000 per liter.

Semoga kinerja SPBU Batara Membangun dapat dicontoh SPBU lainnya.

Redaksi.

Tentang Penulis: Redaksi Suara Borneo

No More Posts Available.

No more pages to load.