Siswi SD Sedang Haid, Disuruh Push Up Oleh Guru, Seorang Anak Kelas 6 SD N Melayu, Muara Teweh Merasa Dipermalukan dan Takut Masuk Sekolah.

oleh -10 views

Muara Teweh. Sekolah adalah tempat untuk belajar ilmu dasar, ilmu sosial, tempat untuk mengembangkan karakter, tempat untuk belajar memahami orang lain, tempat untuk merasakan perbedaan, tempat untuk saling menolong dan saling menguatkan.

Sekolah lembaga yang diberi wewenang untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan karakter anak didik.

Apa yang terjadi jika guru disekolah tidak memahami anak?

Ilu, salah satu orang tua murid Sekolah Dasar Negeri 06 Melayu, Muara Teweh, Kab. Barito Utara, Kalimantan Tengah, menceritakan kejadian pilu yang menimpa anaknya saat mengikuti ujian Penjas di Sekolah.

“Sebut saja nama anak saya T. Anak saya masih duduk di bangku kelas 06 SD Negeri 06 Melayu, Muara Teweh. Waktu sedang mengikuti ujian praktek Penjas (30/03/21) anakku saat itu sedang mengalami datang bulan (menstruasi-red). Oleh karena T masih anak anak dan merasa malu bila apa yang dialaminya diketahui teman temannya, T kemudian melilitkan jaketnya dipinggangnya. Namanya masih anak anak, darah haidnya tembus ke rok dan darah tentu kelihatan. Tapi anak saya dipaksa oleh guru untuk ikut ujian Praktek Penjas” Tutur Ilu sembari menahan air matanya.

Sambil mengusap matanya, Ilu meneruskan kisah kejadian yang dialami anaknya.

” pada saat giliran T untuk ikut ujian Praktek Penjas, gurunya menyuruh T untuk push up dan situp. Padahal gurunya yang kebetulan adalah seorang ibu, seorang perempuan memaksa T untuk melakukan ujian praktek Penjas. Sementara guru sudah mengetahui T sedang dapat bulan dan darah haidnya tembus ke roknya. Guru R Sebagai perempuan sewajarnya memahami keadaan murid perempuan, atas peristiwa tersebut anak saya menangis karena merasa dipermalukan dihadapan teman temannya. Anak saya sepanjang jalan pulang kerumah menangis dan merasa trauma sehingga anak saya takut masuk sekolah. Saya sangat keberatan dan kecewa atas sikap ibu guru terhadap murid perempuan yang masih belia, yang seharusnya dimengerti oleh ibu guru, tapi justru terkesan dipaksakan tanpa mempertimbangkan mental dan psikologis anak” terang Ilu sedih.

Ditemani media ini, 31/03/21, Ilu langsung menemui kepala sekolah SD Negeri Melayu, Muara Teweh, dan oknum Guru R sebagai guru Penjaskes (Guru Olah Raga-red) yang menyuruh T melakukan ujian praktek Penjas terhadap anak yang sedang mengalami Haid. Akan tetapi saat Ilu berniat menemui kepala sekolah, Kepala sekolah sedang tidak berada di tempat dan di wakilkan kepada Gusrianoor, Spd, Guru Kesiswaan sekolah tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, R selaku guru Penjas sekolah tersebut tidak menampik apa yang dilakukannya terhadap anak didiknya T. Akan tetapi R berdalih bahwa bukan hanya T yang hari itu mengaku sedang mengalami haid, tapi ada tiga siswa perempuan sedang haid dan mengikuti Ujian praktek Penjas. Oleh karena siswa yang sedang mens juga ada dan mengikuti ujian praktek, maka menurut R tidak adil jika T tidak ikut ujian praktek Penjas.

“Pas ujian Praktek Penjas, ada juga tiga siswa yang sedang dapat Haid, mereka semua melakukan ujian praktek. Maka saya bilang ke T, mereka juga sedang haid, jangan kamu bikin alasan saja. Kalau tidak mau ujian praktek, T saya menyuruh T keluar. Makanya T melakukan Ujian Praktek Push Up” terang R terkesan membela diri.

Apa benar tiga siswi juga sedang mengalami Haid pada saat ujian praktek Penjas?

Gusrianoor, Spd, Guru Kesiswaan SD Negeri 06 Melayu Muara Teweh, sangat menyesalkan peristiwa tersebut. Dia berharap agar semua pihak, baik orang tua dan khususnya guru mengerti situasi anak.

“Saya yang diberi amanah oleh bapak Kepala Sekolah untuk menemui orang tua T dan menengahi permasalahan yang terjadi, saya sangat prihatin dan menyesalkan kejadian itu. Saya berharap agar semua pihak, baik orang tua dan khususnya guru mengerti situasi anak. Khususnya siswa perempuan yang sebahagian memasuki masa pancaroba, guru wanita semestinya lebih memahami dan mengerti. Tugas guru membina, menyuluh dan mengajar. Semoga kejadian yang sama tidak lagi terulang” ujar Gusrianoor. Spd .

Semoga menjadi perhatian pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan Kab.Barito Utara. (Cana)

Tentang Penulis: Redaksi Suara Borneo

No More Posts Available.

No more pages to load.