Koalisi Ormas Barito Utara Tolak TBBR Bangkule Rajang

 Koalisi Ormas Barito Utara Tolak TBBR Bangkule Rajang

Muara Teweh, Menyikapi Isu akan terbentuknya TBBR atau (Pasukan Merah) di Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah, Koalisi Organisasi (Ormas) sepakat tolak TBBR Bangkule Rajang atau Pasukan Merah, Koalisi Ormas Barito Utara menolak kehadiran TBBR Bangkule Rajang

Drs. Saprudin S Tingan selaku ketua Gerdayak Barut (20/4/2021,) dengan tegas menolak ormas tersebut.

“Saya Dengan tegas kami menolak Pasukan Mereh TBBR masuk ke wilayah adat Barut karena mereka belum pernah melakukan koordinasi dengan ormas-ormas setempat.” Tegas ketua Gerdayak Barut kepada media ini sesuai rapat konsolidasi ormas Barito Utara.

Hal senada di sampaikan oleh Gusti Rahmadi Jaya selaku ketua Pemuda Pancasila,

“Kita selama ini merasa khususnya di kabupaten barito utara dalam keadaan kondusif aman dan terkendali sehingga belum membutuhkan bantuan dari ormas dari luar provinsi, “Imbuhnya

Gedeon Kongli atau yang biasa disapa Edo selaku Sekretaris PERPEDAYAK barut,. mendampingi ketuanya Wijaya Kusuma mengatakan, “Organisasi wajib bersinergi terhadap sesama, jika organisasi dari luar provinsi masuk ke daerah di provinsi lain wajib bersinergi dengan ormas yang ada di Barut”,

“Setiap masing-masing daerah memiliki Hukum Adat, Tradisi yang berbeda-beda yang wajib di hargai dan dihormati antara sesama dayak”, tandas Leny selaku Ketua Fordayak Barito Utara

Aryosi Jiono Takanabe selaku ketua Pemuda Kaharingan Barut juga berpendapat bahwa belum perlu ada ormas dayak dari provinsi lain, dan harapan kita sesama dayak kita hanya wajib bersinergi menjaga ,merawat dan memeilihara keamanan dan ketertiban di Bumi Iya Mulik Bengkang Turan dengan tidak menempatkan kepentingan ormas dari luar provinsi namun sesama dayak wajib bersinergi, Terkait Perbedaan-perbedaan di Barito Utara tentu menjadi Variasi keberagaman yang Membuat kita Mampu kuat dalam bersinergi Tandasnya

Di tempat yang sama Hison selaku ketua Tim Forum Dayak Misik Barut berpendapat, “Selaku Sesama Dayak wajib memenuhi hidup beradat sebagai garis sopan santun, permisi dan saling menghargai karena pada masing-masing daerah, Pulau, Sub. Suku memiliki sejarah dan karakter masing-masing, contoh di kalimantan bagian selatan dulunya pernah dipimpin kerajaan Nan Sarunai, Kaimantan bagian Timur pernah di pimpin Kerajaan Majapahit, sedangkan pada wilayah pinggiran Sei. Barito tidak pernah dipimpin kerajaan melainkan hanya ada kedemangan untuk menyelesaikan masalah hingga dikenal semua Pangkalima sekalipun di sebut Sakai, Masa saya harus mengikuti kerajaan Bangkule Rajang dari Kalbar, sama saja artinya saya tidak menghormati leluhur dari keturunan saya sendiri selaku asli dayak tepian Sei. barito, Katanya ketawa dan memberi contoh

Hison menambahkan, lebih baik jika masyarakat dan tokoh lain tidak terprovokasi karena apapun masalah di daerah, daerah itu sendiri yang wajib menyelesaikanya, sama konsepnya jika dayak harus berperang batasanya tetap wajib bersinergi sesama satu darah dayak, itulah uniknya suku dayak, Tukasnya

Hasil musyawarah dituangkan dalam kesepakatan bersama yang tidak merubah sebagaimana pernyataan sikap sebelumnya tartanggal 7 Desember 2021 dan sebagaimana Surat Koalisi Ormas Barut tertanggal, 27 Desember 2021 yang sudah disampaikan kepada Kesbangpol Barut agar tidak mandaftarkan TBBR di Kabupaten Barito Utara.

Rapat dilaksanakan di sekretariat Balai basarah Hindu Kaharingan Simpang Teluk Mayang Km 2, Muara Teweh dihadiri masing-masing diantaranya Ketua Gerdayak, Ketua Fordayak, Ketua Perpedayak beserta Sekretaris, Ketua Pemuda Hindu Kaharingan, Ketua Tim Dayak Misik, Damang Lahei Barat dan lain-lain (cana)

Redaksi Suara Borneo

https://suaraborneo.co.id/

Be Smart Be Save

Related post