Islah Dua Sekolah Dasar Swasta Di Barito Utara Gagal, Bermuara Keproses Hukum

oleh -2.326 views

Norma (Ketua Yayasan Rumah Cerdas) : “kami difitnah, kami akan terus menjalankan kewajiban kami sebagai institusi pendidikan”

Muara Teweh. Perseteruan antara Yayasan Barakati dengan Yayasan Rumah Cerdas Alfalah Barito Utara masih belum selesai.

Mekanisme islah yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Barut tidak ternyata belum bisa mengakhiri permasalahan antara kedua yayasan tersebut.

Setelah serah terima dokumen dari Zeti, mantan Kepala Sekolah SDI Alfalah Sofia ke pihak Yayasan Barakati dilakukan, perseteruan masih belum usai sebab permasalahan menurut informasi H.Tajeri ke awak media telah masuk ranah hukum dan sedang berproses di Polres Barito Utara.

Membaca berita di media online termasuk media ini, Norma, sebagai pendiri dan ketua Yayasan Rumah Cerdas Alfalah sontak kaget dan mengundang awak media ini ke kantor Yayasan Rumah Cerdas Alfalah Barito Utara (22/01/22), Muara Teweh, Kab. Barito Utara, Prov. Kalteng.

Norma dalam press release nya menjelaskan kronologis yayasan dan sekolah yang dia bidaninya bersama ustad dan ustajah yang dia kader bersama para orang tua murid.

foto: cek fisik dihadiri oleh Inspektorat Barito Utara

“SD Islam Swasta Alfalah berada dalam Yayasan Rumah Cerdas Alfalah Barito Utara. Berdiri tahun 2018. Para penggagas dan pendiri adalah semua guru TK kami. (TK Alfalah). Semuanya kami kerjakan , tidak ada campur tangan yang lain.” Kata Norma mengawali pres release nya

“Waktu itu, ibu Sofia datang ke kantor kami disaksikan oleh bunda Ana sebagai Kasek TK Alfalah, bunda Maya juga ada saat itu. Kepada kami, Sofia menawarkan rumahnya yang berada dijalan Merpati. Beliau atas dasar amal, rumah tersebut ditawarkan untuk kami pakai menjadi sekolah dasar Islam Alfalah. Saat itu, kata beliau beramal. Gratis.” Terang Norma di dampingi para staf dan guru Alfalah.

“Saya adalah Ketua yayasan Rumah Cerdas Alfalah. Saya tahu dia membawa itikad baik. Beliau menawarkan kami mamakai rumahnya dengan gratis. Seiring waktu pas kita mau urus ijin, beliau minta kami yang urus ijin operasional (2018). Kami penerimaan siswa bukan di bulan Juni, tapi dibulan Februari 2018. Waktu itu 85 Persen murid yang masuk adalah murid murid kami dari lulusan TK Alfalah. Murid kami saat itu 81 orang (tiga tahun). Pada saat pengurusan ijin, ijin yang keluar ternyata ijin atas nama yayasan Barakati. Milik H Tajeri.” Ujar Norma.

foto: Islah ke-1 diruan kerja Kadis Diknas Barut

“Waktu itu posisi saya serba salah. Dibulan Juni anak anak sudah sekolah. Mundur salah maju salah.
Dibulan Agustus 2018, Sofia memanggil saya sendiri. Beliau bilang bagaimana kalau nama sekolah itu dirubah menjadi Al-Ahya Sofia Alfalah. Saya kaget. Saya tentu menolak. Sebab Alfalah adalah nama nama sekolah yang kami buka dan bina dari awal. Nama itu bukan nama pribadi. Kami ambil barokah dari nama Pondok Pesantren kami, yaitu pondok Pesantren Al Falah, sehingga nama itu kami sematkan menjadi nama sekolah kami. Nama itu sangat bersejarah bagi kami. Lalu saya tawarkan agar beliau menambah nama Sofia tapi di belakang Al Falah. Sehingga terbentuklah nama sekolah itu Alfalah Sofia. Jujur kami merasa dipermainkan.” Beber Norma sedih sembari menghapus air matanya.

Foto : Islah ke-2 di ruang kerja Kadis Diknas Barut

“Selama 3 tahun itu, pengurus yayasan Barakati tidak pernah melakukan arahan, bimbingan kepada sekolah dan guru. Pas tahun ke 3, beliau meminta pertanggung jawaban keuangan. Beliau kemenangannya di ijin operasional karena atas nama yayasan Barakati. Tapi semua orang tahu itu sekolah saya, sekolah Alfalah. Orang masuk sekolah kami memandang nama Alfalah bukan Barakati. Kenapa tiba tiba menanyakan itu? Sementara pengelolaan secara penuh di serahkan ke saya!.” Ungkap Norma penuh tanya.

foto : cek fisik dihadiri pihak Inspektorat dan Polres Barut

Masih menurut Norma, dia mengelola sekolahnya sendiri. SK nya tidak dari yayasan Barakati.

” Beliau pernah bilang SPP dijadikan bisnis, beliau tidak berkaca kah? Beliau menebar fitnah. Publik juga tahu bukan!” Kata Norma

“Pada 26 Juli 2021, pak Tajeri minta SPP itu di transfer ke ke yayasan Barakati. edaran pun di sebarkan oleh kasek sesuai perintah H.Tajeri. Lalu di grup internal sekolah orang tua heboh. Di grup internal, setelah beliau meminta di transfer ke yayasan Barakati, jujur saya diam saja. Yang saling jawab dalam percakapan WhatsApp hanya ibu Sofia dengan orang tua murid.” Kata Nurma sambil menunjukkan dokumen percakapan WhatsApp yang sudah di cetak menjadi beberapa lembar kertas.

“Sampai 28/7/21 malam, suami saya muncul di grup mengatakan saya mundur mengelola sekolah, besoknya tanggal 29/721, semua ustad dan ustajah ikut mundur. Tanggal yang sama semua orang tua murid datang kerumah saya meminta saya tidak mundur. Jumat ,tanggal 30/7/21 itu hari terakhir anak anak sekolah itu. Dari tanggal 28/7/21 saya tidak lagi masuk ke sekolah itu. Orang tua mogok masuk ke Sekolah Alfalah Sofia.” ujar Norma serius.

” Hasil swadaya kami didukung oleh para orang tua murid, kami mendapatkan gedung sekolah yang berada Simpang LP Barut.
Di bulan Juli/21 sudah tidak ada lagi yang mengantar anak anak sekolah ke sekolah Alfalah Sofia. Kami berbicara sesuai fakta. Silahkan cek ke 80 orang tua anak, apakah saya pernah mempengaruhi para orang tua ? Nah, 30 Agustus 21 proses belajar mulai di sekolah kami yang baru.” Ucap Norma mencoba menjelaskan secara detail.

Foto : Notulen RDP

“Kami bahkan pernah menghadap Bapak Bupati (Senin, 30/08/21) beliau memberi saran agar masalah diurus, agar anak anak jangan terlantar. Beliau menyarankan untuk islah difasilitasi oleh diknas Barut. Di bulan September 21, dilakukan islah tetapi hasil islah ke 1 tidak ada hasil. Kadis berpesan tolong anak anak jangan terlantar, saya diminta agar siap mendampingi anak anak. Saya jawab siap. Di islah ke-2, ada hasil kami mengembalikan asset. Yang kami dapatkan selama berjuang selama 3 tahun. Dari BOS, Hibah dan pihak ke -3. ” Beber Norma.

“Di islah ke 2 (20/9/21), hasil islah diantaranya asset akan diserahkan ke yayasan Barakati. Siswa siswa yang belajar di persilahkan untuk melanjutkan belajar di Sekolah Alfalah Sofia atau sekolah lain.
Kadis bilang agar asset yang akan dikembalikan dipilah pilih. Semua orang tua juga sepakat agar semua asset kami kembalikan, kami sudah kembalikan. Dana hibah 50 juta, uangnya saya serahkan ke beliau. Kami berempat mengembalikan uang itu. ” Kata Norma.

Ditanya soal perijinan sekolah?

“Secara ijin memang mereka (Yayasan Barakati), tapi perlu di croscek, kenapa muncul Yayasan Barakati?” Jawab Norma singkat.

Masih menurut keterangan Norma, Norma pernah di somasi oleh pihak Yayasan Barakati dan Nurma merespon somasi tersebut.

“Ini bukti nya pak, saya merespon somasi beliau. Ada buktinya pak.” Ucap Norma menyanggah kalau dirinya dianggap tidak merespon somasi Yayasan Barakati sembari menunjukkan bukti pengiriman melalui salah satu lembaga pengiriman.

Terkait proses hukum yang sedang di Polres?

“Benar pak. Kami dilaporkan ke polres, kami sudah diperiksa. Dari semua asset yang diminta dikembalikan, hanya karpet yang masih ada menempel dan gorden ada di rumah beliau juga. Itupun sudah rusak. Pas cek fisik, pihak inspektorat mau minta kunci rumah yang di jalan Merpati dari beliau, tapi tidak di berikan. Lalu dimana kami melakukan penggelapan? “Ujar Norma heran.

Kenapa mengambil asset tanpa seijin Pihak yayasan Barakati?

“Anak anak murid kami tanggal 30 7 /21, para orang tua sudah tidak mau membawa anaknya ke sekolah itu. Kami sudah sekolah di sekolah yang baru. Kemudian dana itu kan dana untuk anak anak bukan milik yayasan.” Jawab Norma.

Terkait pembelian 3 unit Laptop yang di duga fiktif?

“Tidak benar itu pak. 3 laptop ada dan sudah kami serahkan” kata Norma tegas dan mengatakan bahwa tidak ada istilah pengambilan barang, tapi kami mengikuti siswa. Sebab barang itu milik siswa.” Jawab Norma dan menegaskan bahwa mereka bicara fakta, bukan fitnah.

Kenapa waktu mengurus ijin Operasional sekolah nama yang keluar nama Yayasan Barakati, ibu tidak protes?

“Kami protes pak, tapi karena proses sekolah sudah berjalan dan kami memakai gedung mereka, dengan berat hati kami melanjutkan proses sekolah. Walau sebenarnya kami tidak terima.” Jawab Nurma menambahkan bahwa terkait dana yang di sebut sebut pihak Yayasan Barakati, bahwa pihak Nurma CS sejumlah dana untuk membayar utang sekolah, itu fitnah.

” Silahkan di buktikan kami utang kemana? Itu fitnah.” Jawab Nurma

“Semua dana sudah kami kembalikan. Ada dokumen di Inspektorat. Silahkan di cek pak.” Jawab Nurma.

Foto. Norma saat melakukan pres release didampingi staf, guru dan wakil orang tua

Salah seorang orang tua murid yang hadir dalam press release Yayasan Rumah Cerdas Alfalah ikut menanggapi pernyataan Ketua Yayasan Rumah Cerdas Alfalah Barito Utara

“Pak, kami orang tua murid menyerahkan anak anak kami sejak dari PAUD pak. 80 persen anak murid yang masuk ke SD dari PAUD dan TK pak. Jelas kami tidak mau anak anak kami masuk ke sekolah yayasan Barakati” kata salah satu orang tua murid yang turus hadir dalam pres release pihak Yayasan Rumah Cerdas Alfalah yang berdiri pada tanggal 19/12/2012 yang lalu.

Redaksi.

**pres release Pihak Yayasan Rumah Cerdas dalam rangka Klarifikasi Berita.

Tentang Penulis: Redaksi Suara Borneo

No More Posts Available.

No more pages to load.