Diduga Permufakatan Jahat, Supia Warga Hajak Lapor Polisi

oleh -110 views
oleh

Muara Teweh. Tanah warisan atau disebut juga tanah girik merupakan aset yang perlu dilindungi dan diurus kepemilikannya. Yang berhak menjadi ahli waris ialah keluarga sedarah. Baik yang sah menurut undang-undang maupun yang di luar perkawinan dan suami atau istri yang hidup terlama.

Bisakah Tanah Warisan di penjual belikan?

Terkait permasalahan jual beli tanah Warisan, menimbulkan derita bagi Supia dan saudaranya.

Supia didampingi Suprianto salah satu saudara kandungnya dari lima bersaudara, warga Desa Hajak, Kec. Teweh Baru, Kab. Barito Utara, Kalteng mengungkapkan kekecewaan nya atas perilaku saudara kandungnya yang berinisial N tega menjual tanah alm. Orang tua mereka bernama Kian. N/Kristian Efren secara diam diam kepada perusahaan swasta.

Kekecewaan Supia tersebut disampaikan sesaat setelah keluar dari Kantor Polsek Teweh Tengah. (31/05/23)

Dengan menunduk dan terlihat menahan air matanya, Supia didampingi Suprianto membeberkan alasannya hingga tega melaporkan saudara kandungnya sendiri, perangkat desa yang diduga membuat surat siluman beserta empat warga desa Hajak lainnya yang diduga menjadi saksi palsu

“Kami sangat kecewa pak. Alm. Orang tua kami memiliki dua bidang tanah. Tanah peninggalan orang tua kami itu seharusnya dijaga dan dikelolah oleh keturunannya. Namun salah satu saudara kandung kami telah menjual tanah Warisan itu kepada perusahaan swasta. Dia menjual secara diam diam. Saya sudah sering mengingatkan agar adek saya tersebut jangan menjual tanah orang tua. Tetapi dia menolak dan selalu bersikap kasar dan sering mengancam saya. Saya dan keluarga menjadi takut pak” Kata Supia sambil sekali kali menyeka matanya.

Awak media bertanya alasan ibu Supia membuat laporan ke polisi?

“Kami sudah tidak tahan melihat perilaku adek saya pak. Kemudian dia kalau membaca surat ini bersama perangkat desa Hajak telah melakukan perbuatan curang. Mereka buat Berita Acara Musyawarah keluarga kami yang mana sama sekali tidak pernah kami ketahui. Kami memang pernah musyawarah terkait masalah tanah orang tua kami. Dalam rapat kami menolak menjual tanah Warisan itu. Kami menolak tanah tersebut dikuasai atau dimiliki oleh N. Tapi dalam berita acara, mereka secara diam diam menulis seolah olah kami setuju menjual tanah itu dan menyerahkan tanah tersebut sepenuhnya kepada N. Semua itu tidak benar pak. Itu rekayasa mereka. Ini surat siluman. Permufakatan jahat ini harus dihukum pak. Jalan satu satunya yang bisa memberi keadilan kepada kami hanya berharap di muka hukum. Tanah Warisan orang tua kami harus kembali, tidak boleh dijual. Kami sangat keberatan dan dirugikan. Makanya kami melaporkan perbuatan mereka” Ucap Supia sedih.

“Kami berharap, bapak Kapolsek dapat memproses laporan kami. Semua pihak yang melanggar hukum harus diganjar dengan hukum” Kata Supia menutup wawancaranya dengan awak media sembari menambahkan agar dua perusahaan yang membeli tanah orang tuanya dari N jangan di garap.

Tampak dalam surat laporan polisi, para terlapor adalah N, RH, W, AL, AU, U, P dan R

Tanah warisan dapat diperjualbelikan apabila harta waris tersebut sudah terbuka yaitu apabila terjadi suatu kematian. Yang berhak untuk melakukan jual beli adalah ahli waris.

Proses jual beli tanah warisan membutuhkan persetujuan seluruh ahli waris, karena mereka secara bersama-sama memiliki hak yang sama terhadap harta waris tersebut. Jika terjadi jual beli tanah waris tanpa persetujuan salah satu ahli waris, maka jual beli tersebut batal demi hukum. Artinya hak milik atas tanah tetap berada pada ahli waris, dan pembeli wajib menerima uangnya kembali.

Redaksi

** Media ini belum konfirmasi kepada pihak pihak yang dilaporkan ke Polisi

No More Posts Available.

No more pages to load.